Nah, jika jika rambut siswa melebihi definisi diatas, sanksinya adalah pencukuran paksa sampai rambut terlihat rapih, dalam hal ini definisi rambut rapih adalah yang tidak melebihi definisi gondrong yang saya sebutkan di atas. aturan ini bisa diterima siapa saja, orangtua, guru dan murid bahkan yang berjiwa berontak sekalipun. Lalu apakah Tokka itu? Di Kota makassar dan Sekitarnya peraturan tentang panjang rambut adalah panjang rambut tidak lebih dari 3cm bagian depan, 2cm bagian tengah dan 1cm untuk bagian samping dan belakang kepala. aturan ini beragam di tiap sekolah, tetapi rata-rata dibawah 3cm. jika melebihi standar panjang rambut diatas, rambut jangan harap rambut siswa akan dirapihkan oleh eksekutor, tetapi dicukur asal-asalan sampai kulit kepala siswa terlihat. Kegiatan eksekusi dari sanksi tersebutlah yang dinamakan “Tokka“. Sekolah menganggapnya sebagai simbol “kedisiplinan” sekolah, baru-baru ini Sekolah Islam Athirah merubah standar rambutnya menjadi 2mm. ya, “milimeter“! bukan sentimeter. apakah ini persaingan gengsi “kedisiplinan” sekolah? apakah aturan ini diterima oleh semua pihak? untuk para guru setuju, mungkin layaknya senior yang setuju dengan adanya MOS, alasannya karena mereka dulu uga begitu. Tapi apakah siswa pernah ditanya? mereka hanya disodori lembaran kertas saat penerimaan murid baru dan menandatanganinya. dan sayangnya sebagian besar dari mereka tidak tahu peraturan ini hanya ada di kota mereka. Bagaimana respon dinas pendidikan makassar? dikutip dari kolom tribun-timur.com
pendidikan Rambut Siswa Dipotong Kpd yg terhormat dinas pendidikan mks. knp d.sman 21 mks, biar bkan tgl 10. tetap d.Tokka, br cara tokkanya kterlaluan. .tolong. +685656090xxx Sudah tandatangan Aturan Sekolah PERLU kami jelaskan bahwa sebelum siswa masuk. siswa menandatangani aturan sekolah. Karena itu, semua kebijakan yang berlaku di sekolah tersebutyang disetujui atau ditandatangani oleh siswa, harus diterima oleh siswa tersebut tanpa ada keberatan. Muh Natsir Aziz Kadis Pendidikan Kota Makassar
Lalu sejauh mana manfaat “kedisiplinan” tersebut? siswa akan terbebas dari kutu rambut, dan tukang cukur akan mendapatkan tambahan penghasilan. selain itu, tidak ada. apalagi menyangkut “kecerdasan” siswa yang sering dijadikan alasan. (apakah panjang rambut mempengaruhi kecerdasan adalah pertnyataan yang bodoh?) dampak buruk dari kedisiplinan tersebut? Siswa yang masih dalam proses pencarian jati diri akan kehilangan jalan untuk mengekspresikan diri dan membatasi kebebasan berekspresi siswa. Lebih banyak siswa akan lebih memilih melewati pagar daripada melewati pintu gerbang sekolah. Lebih banyak siswa akan lebih memilih tidak mengikuti upacara bendera daripada kehilangan rambutnya. dan masih banyak yang lain. Adakah solusinya? Ya, bukankan aturan standar sekolah lain yang telah kita ketahui di luar makassar dan sekitarnya dengan definisi gondrong yang saya tulis diatas lebih berhasil, baik dari kecerdasan siswa maupun kedisiplinannya? mereka tidak akan terlihat berantakan dengan rambut rapih definisi umum yaitu, tidak melebihi kerah baju, tidak menutupi telinga dan alis mata. sekolah tidak akan kehilangan reputasi kedisiplinannya dan siswa juga akan menerimanya tanpa unsur paksaan. Saya yakin peraturan keterlaluan seperti Tokka akan menghilang layaknya MOS yang sangat jauh dari bermanfaat, cepat atau lambat seiring dengan semakin pintarnya peradaban. (pejuangantitokka)

Subscribe











hkhkhk,,, ingat masa SMA dulu.. sempat juga sih di kasih peringatan.. untung nya ga samapi di botakin di depan umum.. ih.. malu..
waduh2,
itu namanya melanggar hak2 warga negara,
kalau rambut rapi, kan tidak harus pake prinsip rambut tidak lebih dari 3cm bagian depan, 2cm bagian tengah dan 1cm untuk bagian samping dan belakang kepala. aturan ini beragam di tiap sekolah, tetapi rata-rata dibawah 3cm,
apa-apaan itu?
kecuali sekolah militer yang benar2 mengajar disiplin tinggi.
perlu di tegur tuh pihak2 yg semena2.
lapor ka dinas pendidikan nya.
andai saya bisa, mohon bantuannya saja temen2 bloger sekalian.
[...] Terlepas dari segala kebosanan disana, rasanya merdeka! tanpa harus bangun pagi buta atau manjat pager lagi menghindari Tokka (yang gak tau Tokka baca ini ). [...]